بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Hello viewers!!
Selamat datang di jarijemarirani.blogspot.com. Pada kesempatan kali ini, author mau membagi sedikit cerita sebuah perjalanan KKL menuju Suku Baduy Dalam dan Kota Bandung. Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester pada mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Semoga blog ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca ya! Hope it like it, enjoy!!✨
Kuliah Kerja Lapangan atau disingkat menjadi KKL, adalah sebuah mata kuliah wajib di kampus kami, Universitas Negeri Yogyakarta. Sebuah perjalanan menuju Suku Baduy Dalam dan Kota Bandung selama empat hari. Perjalanan dimulai pada hari Senin tanggal 16 Januari 2023 dari Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta. Senin siang hingga hari Selasa dini hari, kami menghabiskan waktu di perjalanan untuk menuju daerah Lebak, Banten. Beberapa tugas yang akan rancang untuk menjadi laporan akhir semester pada mata kuliah KKL ini adalah, membandingkan kehidupan masyarakat di pedesaan (Suku Baduy Dalam) dan di perkotaan (Kota Bandung).
Sesampainya di Banten, kami mulai membersihkan diri untuk melanjutkan perjalanan tracking ke Suku Baduy Dalam. Untuk memulai tracking tersebut, kami harus menaik kendaraan umum berupa bus shuttle terlebih dahulu selama kurang lebih sekitar satu setengah jam. Setelah kurang lebih lamanya sekitar satu setengah jam naik bus shuttle, sambil melewati tulisan Baduy Jero atau Baduy Dalam, yang artinya kami sudah sampai di pintu awal pada wilayahSuku Baduy Dalam, kami disambut dan diperlihatkan oleh sekerumunan anak-anak kecil dari Baduy Dalam yang sangat menggemaskan dengan pakaian unik yang mereka kenakan, hanya berupa dua variasi warna yaitu hitam dan putih, dihiasi juga dengan kain putih yang dibalut di kepala mereka. Ternyata anak-anak tersebut memang membuka jasa angut barang atau yang biasa dikenal dengan sebutan porter. Tidak selesai begitu saja, ternyata butuh waktu dan perjalanan mendaki yang cukup meguras tenaga juga untuk kami agar bisa tiba di wilayah Suku Baduy Dalam tersebut, dengan mendaki atau tracking kurang lebih lamanya sekitar dua jam perjalanan. Sebelum memulai tracking, tentunya kami diberikan pengarahan dan pembagian kelompok terlebih dahulu. Pendakian yang sangat melelahkan namun cukup terbayarkan, karena sepanjang jalan mata kami disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan yang indah.
Perjalanan tracking kami selama kurang lebih sekitar dua jam, dan sempat beberapa kali berhenti karena beristirahat. Akhirnya kami tiba juga di Suku Baduy Dalam yang merupakan salah satu suku tradisional terletak di wilayah Banten. Sesampainya di sana, hujan pun turun menyambut kedatangan kami, udara yang semakin terasa sejuk dan suasana yang tenang. Di Suku Baduy Dalam, kami menginap di rumah warga Suku Baduy Dalam tersebut, rumah mereka yang unik, model rumah panggung yang terbuat dari bahan-bahan kayu, tanpa alas tidur, tidak ada listrik dan penerangan, juga atap rumahnya pun terbuat dari jerami. Di setiap rumah tersebut kami berkelompok, yang masing-masing beranggotakan sembilan orang. Tujuan dari dibentuknya kelompok itu sendiri adalah, kami ditugaskan untuk wawancara dengan warga setempat tentang semua hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial di Suku Baduy Dalam. Kami menetap bersama salah satu keluarga Suku Baduy Dalam yang dipanggil dengan sebutan Ayah dan Ambu, mereka mempunyai satu orang anak yang usianya mungkin sekitar di bawah lima tahun. Ayah dan Ambu menerima kedatangan kami dengan sangat baik, mereka juga telah menghidangkan makanan yang mereka masak sendiri. Namun sebelum kami menyantap masakan mereka, kami sempat berbincang-bincang terlebih dahulu, dan menanyakan beberapa pertanyaan yang ingin kami tanyakan. Logat dari bahasa Sunda yang sangat kental terdengar, komunikasi sehari-hari mereka memang menggunakan bahasa Sunda, bahkan beberapa anak-anak Suku Baduy Dalam sendiri pun masih ada yang belum bisa diajak komunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia secara jelas.
Setelah kami berbincang cukup lama, dan hujan pun sudah reda, tiba-tiba di depan rumah sudah ramai warga baduy yang sedang berjualan. Mereka menawarkan barang jualan mereka seperti aksesoris gantungan kunci, baju adat yang mereka jahit sendiri, sampai ada juga yang menjual buah durian dengan harga yang cukup murah dari pasaran biasanya. Menjelang malam pun tiba, langit yang sudah semakin gelap, penglihatan yang sudah tidak begitu jelas melihat sekeliling karena tidak adanya penerangan. Kami pun mulai bersiap membersihkan diri untuk segera tidur. Selama satu malam menetap, kami hanya membersihkan diri seadanya, tidak mandi, tidak sikat gigi, hanya mengganti pakaian saja. Karena di sana terdapat aturan yang tidak bisa kami langgar seperti larangan tidak boleh membawa cairan sabun atau barang bawaan yang berbahan kimia lainnya, dikhawatirkan nanti akan merusak lingkungan di sana dan agar tetap menjaga kelestarian alam. Beberapa aturan atau larangan lainnya adalah, pengunjung tidak boleh memotret atau mengambil gambar ketika sudah berada di wilayah Suku Baduy Dalam. Semakin larut malam, dan kami juga sudah sangat lelah akhirnya kami bergegas tidur dan akan bangun sangat pagi untuk melanjutkan perjalanan pulang di keesokan harinya. Hingga pagi hari pun tiba, kami pun mulai bersiap-siap untuk turun dari wilayah Baduy Dalam dan melanjutkan perjalanan ke tempat KKL selanjutnya, yaitu di Kota Bandung.
Kurang lebih lamanya sekitar satu setengah jam turun dari wilayah Suku Baduy Dalam, dan ingin melanjutkan perjalanan menuju Hotel Hyper Inn Bandung. Setelah beberapa jam di perjalanan, dan pada malam harinya tiba lah kami di hotel yang akan kita tempati. Namun sebelum beristirahat di kamar hotel, kami makan malam terlebih dahulu sambil mendengarkan beberapa pengarahan untuk tugas dan kegiatan KKL selanjutnya yang akan kita lakukan. Hingga pagi pun tiba, kami mulai bersiap diri untuk menuju Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat Bidang Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik), dan mendengarkan materi yang diberikan. Setelah kegiatan tersebut, kami mulai ke kegiatan selanjutnya yaitu wawancara dengan Warga Saritem. Beberapa tugas yang akan kami rancang untuk menjadi laporan akhir semester pada mata kuliah KKL ini adalah, membandingkan kehidupan masyarakat di pedesaan (Suku Baduy Dalam) dan di perkotaan (Kota Bandung).
Pada kehidupan masyarakat modern seperti sekarang ini, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (Suku Baduy Dalam) dan masyarakat perkotaan (Kota Bandung) dalam bentuk "rural community" dan "urban community". Kehidupan masyarakat desa tentu berbeda dengan masyarakat kota, perbedaan yang paling mendasar adalah karakteristik yang signifikan terkait cara hidup sehari-hari dan sistem tatanan sosialnya. Warga Suku Baduy Dalam atau Baduy Jero yang bermukim di pelosok tanah adat, kepercaayan mereka adalah Sunda Wiwitan, dan dianggap memiliki kedekatan dengan leluhur. Mereka tidak mengenyam pendidikan, tidak beralas kaki, namun melek teknologi. Mereka mempunyai konsep menjauh dari hal yang berbau duniawi. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah bertani, dan masing-masing anggota keluarga mempunyai perkebunan sendiri.
Keadaan wilayah Suku Baduy Dalam berbanding terbalik dengan wilayah perkotaan yang kami kunjungi, di Bandung terdapat badan khusus yaitu Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) yang berperan dalam melaksanakan urusan pemerintahan bidang ideologi, wawasan kebangsaan, dan bidang politik dalam negeri dan kehidupan demokrasi untuk kota Bandung. Di wilayah Kota Bandung juga terdapat Kampung Toleransi di Gang Luna dengan keberagaman multikultural yang memiliki empat Gereja, empat Wihara, dan dua Masjid.
Masyarakat perkotaan yang mana kita ketahui selalu identik dengan sifat yang indivdual, materialistis, penuh kemewahan, dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi, perkantoran yang mewah, dan pabrik-pabrik yang besar. Masyarakat pedesaan pula ditandai dengan pemilik ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga atau anggota masyarakat yang sangat kuat dan hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat, bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya, karena beranggapan bahwa sebagai sesama makhluk sosial hendaknya saling mencintai, saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat. Masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan masing-masing dapat diperlakukan sebagai sistem jaringan hubungan yang kekal dan penting, serta dapat pula dibedakan antara masyarakat yang bersangkutan dengan masyarakat lain. Jadi perbedaan atau ciri-ciri kedua masyarakat tersebut dapat ditelusuri dalam hal lingkungan umumnya dan orientasi terhadap alam, pekerjaan, ukuran komunitas, kepadatan penduduk, homogenitas-heterogenitas, perbedaan sosial, mobilitas sosial, dan nilai atau sistem lainnya.
Cukup sampai di sini dulu ya, cerita yang bisa author sampaikan tentang perjalanan KKL menuju Suku Baduy Dalam dan Kota Bandung. Sangat menyadari bahwa blog ini pasti masih terdapat kekurangan dalam penyampaian, dan masih jauh dari kata sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, takbir!! Mohon dimaafkan dan terima kasih.✨
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.